Feeds RSS
Feeds RSS

Kamis, 08 April 2010

pengaruh keluarga broken home terhadap perkembangan remaja

aBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Pada masa ini adalah remaja mencari jati diri. Pencaharian jati diri merupakan proses dari perkembangan pribadi anak. Menurut Erickson (dalam Kartini kartono, 2003 : 8) “Masa remaja merupakan masa pencaharian suatu identitas menuju kedewasaan”.
Untuk membantu remaja pada masa transisi ini yang sangat berperan disini adalah keluarga, seperti diungkapkan Satiadarma (2001 : 121) “Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi sosial”. Jadi disini keluargalah yang bertanggung jawab dalam perkembangan sosial anak.
Pada hakekatnya keluargalah wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak remaja yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya, selain sebagai pembentukan masing-masing anggota terutama anak peranan terpenting dalam keluarga memenuhi kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikis. Maslow (dalam Syamsu Yusuf, 2001 : 38) “Tahap perkembangan psikologi dalam kehidupan seseorang individu dan itu semua bergantung pengalaman dalam keluarga”.
Jadi dari keluargalah semua itu berasal, kalau anak remaja dibesarkan dari keluarga yang utuh / tidak broken home maka perkembangan anaknya akan mengarah kearah yang baik atau sebaliknya, menurut Kartini Kartono (2003 : 57) “Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak”.
Lalu bagaimana perkembangan remaja yang berada dalam keluarga yang broken home? Dan bagaimana pula dampaknya bagi perkembangan remaja? Maka didalam makalah ini penulis akan mencoba menguraikannya.



B. Tujuan Penulisan
Didalam penulisan makalah ini bertujuan supaya orang tua lebih memperhatikan perkembangan anak dan tidak hanya mementingkan egonya masing-masing seperti berpisah atau bercerai, karena sikap orang tua itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak terutama remaja. Menuurut Kartini Kartono (1986 : 45) “Sikap dan prilaku orang tua dalam hubungan dengan anak-anak mempengaruhi setiap pertumbuhan dan perkembangan.
Tujuan utama dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas kuliah Dasar Logika an penulisan Ilmiah (DLPI).

C. Sistematika Penulisan
Makalah ini berisikan empat bab. Bab yang pertama yaitu pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan. Bab yang kedua yaitu pembahasan tentang pengetian keluarga, fungsi keluarga, penyebab keluarga broken home, dan bab yang ketiga berisi pengertian remaja. Pengertian perkembangan dan tugas-tugas perkembangan serta dampak keluarga broken home terhadap perkembangan remaja.
Sedangkan pada bab yang keempat adalah penutup yang mencakup kesimpulan dan saran.


BAB II
HAKEKAT KELUARGA

A. Pengertian Keluarga
Keluarga berarti nuclear family yaitu terdiri dari ayah, ibu dan anak, ayah dan ibu secara ideal tidak terpisahkan tetapi bahu-membahu dalam melaksanakan tanggungjawab. Menurut Sayekti Pujosowarno (1994 : 11):
Keluarga merupakan suatu persetujuan hidup atas dasar perkawinan antar orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seseorang laki-laki atu seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak baik anaknya sendiri atau adonpsi dan tinggal dalam rumah tangga.

Adapun menurut Bustaman (2001 : 89)
Keluarga adalah kelompok-kelompok orang yang dipersatukan oleh ikatan-ikatan perakwinan darah atau adonpsi yang membantuk satu sama lain dan berikatan dengan melalui peran-peran tersendiri sebagai anggota keluarga dan pertahanan kebudayaan masyarakat yang berlaku dan menciptakan kebudayaan sendiri.

Pengetian lain juga dikemukakan oleh Siti Meichati (dalam sayekti pujosuwarno, 1994 : 54),
Keluarga adalah suatu ikatan sehuluan hidup atas dasar perkawinan antar orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seseorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak baik anak sendiri/adopsi yang tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Sedangkan menurut soerjono soekanto (1992: 1) “Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang terdiri dari suami istri berserta anak-anak”.
Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat yang merupakan pondasi pertama bagi perkembangan anak untuk selanjutnya. Menurut Kartini Kartono (2003 : 57) “keluarga merupakan unit sosila terkecil yang meberikan fondasi primer bagi perkembangan anak”.
Jadi, dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang dilihat dengan tali perkawinan yang terdiri atas ayah, ibu dan anak.

B. Keluarga Harmonis
Agar remaja dan anak mengalami perkembangan yang baik, yaitu berkembang dengan prinsip-prinsip perkembangan, sebaiknya remaja dan anak diperhatikan dilingkungan keluarga yang harmonis.
Pengertian keluarga harmonis dijelaskan oleh para ahli sebagai berikut. Menurut Mahfudli (1995 : 48):
Keluarga harmonis adalah hidup bahagia didalam ikatan cinta, kasih suami istir yang didasari oleh kerelaan, keselarasan hidup dalam ketenangan lahir dan batin karena merasa cukup puas atas segala sesuatu yang ada.

Seiring dengan itu Singgih D. Gunawan (1995 : 20), menyatakan bahwa :
Keluarga bahagia adalah bila mana seluruh anggota kelaurga merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketenggangan kekacauan dan puas terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya.

Jadi keluarga harimonis adalah keluarga yang bahagia yang ditandai dengan hidup tentram jauh dari kehancuran.

C. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Pendidikan
Pendidikan dapat dilaksanakan dalam lingkungan tertentu seperti dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang paling utama karena anak mengenal pendidikan. Adapun menurut Sayekti Pujosuwarno (1994 : 19) jika orang tuanya hidup rukun dan damai maka akan dapat membantu anak-anak yang baik tetapi sebaliknya, keluarga yang berantakan orang tua hidup tidak tentram, suram, kacau akan membuat anak hidup kacau dan tidak tentram.

2. Fungsi Sosial
Keluarga merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan anak, keluarga sebagai kelompok diantara para anggota dan disitulah terjadinya proses sosialisasi (Sayekti Pujosowarno, 1994 : 21).
3. Perlindungan dan pemeliharaan
Keluarga juga berfungsi sebagai pelindungan dan pemeliharaan terhadap semua anggota keluarga pelindung terhadap anggota-anggota keluarga meliputi pelindungan dan pemeliharaan terhadap kebutuhan jasmani dan rohani (Sayekti Pujosuwarno, 1994 : 18)

D. Penyebab Keluarga Broken Home
Broken home adalah kurangnya perhatian dari keluarga, kurangnya kasih sayang dari orang tua atau keluarga yang orang tuanya memiliki kesibukan sendiri-sendiri.
Broken home bisa juga disebut keluarga yang pecah atau orang tuanya yang berpisah.
Penyebab timbulnya keluarga broken home
1. Orang tua yang bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang, dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyang dan tidak mampu menompang keruntuhan kehidupan keluarga yang harmonis.
Menurut Save M Degum (1999 : 1995) faktor yang menyebabkan perceraian adalah:
Masalah ekonomi, perbedaan antara yang besar keinginan memperoleh anak dan perbedaan prinsip hidup yang berbeda, perbedaan pemahaman dan cara mendidik anak pengaruh dukungan sosial dan pilihan lain.






Adapun menurut M. Thaib (1997 : 19) faktor yang menyebabkan peceraian adalah:
1)Tidak senang lagi terhadap pasangan, 2) tidak dibelanjai, 3) lemah syahwat, 4) perintah orang tua, 5) penganiayaan, 6) tergoda laki-laki atau perempuan lain, 8) menuntut kemewahan, 9) mengidap suatu penyakit, 10) melanggar persyaratan, 11) suami / istri gaib, 12) mutrad, 13) mula’anah.

2. Kebudayaan bisu dalam keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan dalam situasi yang berjumpaan bersifat sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumbuhkan rasa frutasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak.

Itulah berbagai penyebab keluarga menjadi keluarga yang broken home yang dampaknya berimbas pada perkembangan remaja.


BAB III

A. Pengertian Remaja
Istilah remaja mengandung arti yang cukup luas, menurut Singgih Gunarsa (1995 : 3) “Remaja adalah individu yang berumur 12 sampai 21 tahun”.
Sesuai dengan pendapat diatas, menurut Zulkifli (1986 : 19) yang dimaksud remaja adalah :
Mereka yang berusia 12 – 21 tahun, usia 12 tahun merupakan awal puberitas bagi seorang gadis sudah dewasa apabila telah mengalam mastruasi pertama sedangkan usia 13 tahun merupan awal pubairitas bagi pemuda.

Disamping itu menurut Piaget (dalam Muhammad Ali dan M. Astori. 2006 : 9) mengatakan bahwa :
Remaja masih suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa dan suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar.

Masa remaja merupakan masa transisi yang mengiginkan sesuatu yang baru, menurut Monhr (dalam Muhammad Ali dan m. Assori. 2002 : 10) “Remaja masih belum mampu menguasai fisik maupun psikisnya”. Namun yang perlu ditentukan disini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa umat potensial. Adapun menurut Andi Mappiare (1982 : 12) “Remaja adalah kelompok manusia yang penuh potensi”
Masa remaja merupakan salah satu periode dimana individu meninggalkan masa dewasa, remaja dapat dikatakan sebagai individu yang telah mengalami masa reproduksi sehingga wanita mengalami manstruasi dan mimpi buruk, Gelida Prayitno (2006 : 6).
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2001 : 137) “remaja adalah periode peralihan kemasa dewasa” dimana mereka seyogyanya mulai mempersiapkan diri menuju kehidupan dewasa.
Sedangkan menurut Sofyan S Willis (1994) “Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa”.
Jadi remaja adalah individu yang berumur 12 sampai 21 tahun dimana seorang mengalami saat kritis sebab akan menginjak masa dewasa, remaja berada dalam masa peralihan dari anak-anak kemasa dewasa.

B. Pengertian Perkembangan dan Tugas-tugas Perkembangan Remaja
1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang telah dari gejala-gejala psikologis kearah yang lebih maju. Menurut Syamsu Yusuf (2001 : 15) perkembangan adalah :
Perubahan-perubahan yang dialami individu atau organism menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmani maupun rohani).

Sedangkan menurut Haggel (dalam Sunarto dan Agung Hartono (1999 : 38) perkembangan adalah :
Struktur yang teorganisasi dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Oleh karena itu bila mana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk mengakibatkan perubahan fungsi.

Sedangkan menurut Bijou dan Bear (dalam Sunarto dan Agung Hartono 1999 : 39) perkembangan adalah “Perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan”
Adapun menurut Schnerla (dalam Sunarto dan Agung Hartono 1999 : 38) “Perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organism-organisme” tetapi menurut Libert Paulus dan Straurs (dalam Sunarto dan Agung Hartono 1999 : 39) “Perkembangan adalah proses peubahan dalam pertumbuhan sebagai fungsi kematangan dan interkasi dengan lingkungan”.
Jadi perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami remaja menuju tingkat kedewasaan / kematangan mental, emosional sosial dan fisik.
2. Tugas-tugas perkembangan remaja
Havighurst (dalam Elida Prayitno. 2006 : 41) menjelaskan bahwa pengertian tugas perkembangan adalah :
A development tarn is a task which at or about a certain periode in the life of an individuali successful achiefmat of which leads to his happiness and to success with letter task. While failure leads to whappiness in the individual diffieulty with late task.

Tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dicapai oleh periode remaja menurut Havighourst (dalam Elida Prayitno. 2006 : 42) sebagai berikut :
a. Menguasai kemampuan dalam membina hubungan baru lebih matang dengan teman sebaya yang sering atau berbeda jenis kelamin.
b. Menguasai kemampuan melaksanakan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin.
c. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
d. Mencapai kemerdekaan (kebebasan) emosional dari orang tua dan orang dewasa.
e. Memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi
f. Memperoleh kemampuan untuk memilih dan mempersiapkan diri dalam karier
g. Memiliki penguat nilai dan sistem dalam bertingkah laku

Adapun menurut Lustinn Pikukar (dalam Syamsu Yusuf 2001 : 72) “Tugas remaja ditandai keinginan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang secara matang agar diterima lingkungan”, ditambahkan oleh Erikson (dalam Syamsu Yusuf 2001 : 72) “Pembentukan identitas diri atau jati diri merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja”.





Selanjutnya menurut Hurlock (dalam Muhammad Ali dan M Asroni 2006 : 10) adalah :
1. Mampu menerima keadaan fisiknya
2. Mampu menerima dan memahami pesan setiap usia dewasa
3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang belain jenis
4. Mencapai kemandirian emosional
5. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual
6. Mengembangkan prilaku tanggung jawab sosial
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

Tugas-tugas perkembangan lainnya menurut William Kay (dalam Syamsu Yusuf. 2002 : 72) adalah :
1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya
2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figure-figur yang mempunyai otoritas
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi
4. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri.
6. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri dari masa kanak-kanak ke masa remaja.

Selain itu Suharto (dalam Khairani dan Darnis Arif 2006 : 26) mengemukakan bahwa: “Tugas perkembangan merupakan suatu kegiatan yang harus dilalui dan dilakukan pada periode-periode tertentu selama proses perkembangan”, disamping itu menurut Kartini Kartono (1990 : 291) “menjadi manusia dewasa yang sanggup bertanggung jawab sendiri dan berdiri sendiri atau mandiri”.
Sementara itu menurut Achdiyat (dalam Zahya Indri dan Lisma jamal 1992 : 74) “Tugas-tugas perkembangan adalah kemampuan yang harus dicapai seseorang pada tiap fase perkembangan”
Jadi dapat disimpulkan bahwa tugas-tugas perkembangan adalah sejumlah kemampuan yang timbul dan harus dilalui/dicapai pada periode-periode tertentu selama pertumbuhan berkembang berlangsung.

C. Ciri-ciri perkembangan remaja
Menurut Blair dan Joner (dalam Elida Prayitno 2006 : 7) menjelaskan bahwa ciri khas remaja yang sedang berkembang adalah :
1. Mengalami perubahan fisik (pertumbuhan) paling cepat
2. Mempunyai energi yang berlimpah
3. Menggarahkan perhatian kepada teman sebaya dengan cara berangsur-angsur melepaskan diri dari keterikatan dengan keluarga
4. Remaja memiliki keterkaitan dan keterikatan yang kuat dengan lawan jenis
5. Periode yang idealis
6. Menunjukan kemandirian
7. Budaya dalam periode transisi
8. Pencarian identitas diri

Jadi remaja sangat membutuhkan keluarga untuk membantunya dalam proses perkembangan supaya mengarah kearah yang baik.

D. Dampak Keluarga Broken Home pada Perkembangan Remaja
1. Perkembangan Emosi
Menurut Hather Sall (dalam Elida Prayitno 2006 : 96) “Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh”.
Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindarkan, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman traumatis bagi anak (Singgih,1995:166).
Adapun dampak pandangan keluarga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah :
Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi
Sedangkan menurut Hetherington (Save M.Degum 1999:197) “Peristiwa perceraian itu menimbulkan ketidak stabilan emosi”.
Ketidak berartian pada diri remaja akan mudah timbul jika peristiwa perceraian dialami oleh kedua orang tuanya, sehingga dalam menjalani kehidupan remaja merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini. (Alex Sobur, 1985:282)
Remaja yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua emosi marahnya akan mudah terpancing. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (didalam Elida Priyitno. 2006 : 74) “Hubungan antara kedua orang tua yang kurang harmonis terabaikannya kebutuhan remaja akan menampakkan emosi marah”.
Jadi keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan emosi remaja karna keluarga yang tidak harmonis menyebabkan dalam diri remaja merasa tidak nyaman dan kurang bahagia.
2. Perkembangan Sosial Remaja
Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) “Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial remaja menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah :
Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.

Sedangkan willson Nadeeh (1993 : 42) menyatakan bahwa :
Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cendrung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut.

Dan dampak bagi remaja putri menurut Hethagton (dalam santrok 1996 : 2000) menyatakan bahwa :
Remaja putri yang tidak mempunyai ayah berprilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.
Jadi keluarga broken home sangat berpengaruh pada perkembangan sosial remaja karena dari keluarga remaja menampilkan bagaimana cara bergaul dengan teman dan masyarakat.

3. Perkembangan Kepribadian
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian remaja. Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :
a. Berpilaku nakal
b. Mengalami depresi
c. Melakukan hubungan seksual secara aktif
d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang

Keadaan keluarga yang tidak harmonis tidak stabil atau berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian remaja yang tidak sehat
Prilaku menyimpang pada diri remaja dapat terjadi oleh beberapa factor, salah satunya menurut Mujiran Dkk (1999 : 23) “Apabila ada satu atau lebih kebutuhan dasar manusia itu tidak terpenuhi maka akan terjadi prilaku menyimpang dan merugikan diri remaja itu sendiri maupun orang lain.

5 komentar:

buku harian si gendut mengatakan...

kok ga ada daftar pustaka nya ya mbakk ?? saya ingin liat buku2 refrensi bacaannya ..

Abhil dan Achul mengatakan...

Bagus tulisannya

Ika Musriana mengatakan...

iyaa.. kurang daftar pustakanya.. coba di kasih yaa

kawokamil mengatakan...

Mbak Ika; body note nya kan udah ada tuh..!!!

Novia Rizky mengatakan...

kita juga punya nih artikel mengenai 'Remaja', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3508/1/JURNAL_10505094_1.pdf
trimakasih
semoga bermanfaat

Poskan Komentar